POTENSI BUY NOW PAY LATER DI INDONESIA MASIH MENJANJIKAN BAGI PELAKU INDUSTRI KEUANGAN

Empat kata pertama pada judul ini sengaja dipilih untuk mencerminkan potensi besar dari sistem Buy Now Pay Later (BNPL) yang kian berkembang di Indonesia. Meskipun sudah banyak pemain yang memasuki pasar ini, peluang pertumbuhannya masih sangat luas—terutama karena segmentasi konsumen di Indonesia sangat beragam dan belum seluruhnya tersentuh oleh layanan keuangan digital.

Pasar yang Masih Terbuka Lebar

Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal sebagai sistem pembayaran “beli sekarang bayar nanti” bukanlah konsep baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, adopsinya meningkat pesat seiring perkembangan teknologi finansial dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transaksi digital. Menurut Mira Wibowo, Presiden Direktur Indodana Finance, pasar BNPL di Indonesia menyimpan potensi yang sangat besar karena segmentasinya yang unik dan berbeda dari pengguna kartu kredit.

Konsumen BNPL tidak dapat disamakan dengan pengguna kartu kredit. Bahkan, merek seperti Indodana mengakui bahwa mengakuisisi pengguna kartu kredit sangat sulit. Justru peluang besar datang dari pengguna kartu debit, QRIS, hingga kelompok masyarakat unbanked atau yang belum memiliki akses ke layanan perbankan.

Fakta Menarik Mengenai Masyarakat Unbanked

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa lebih dari 50% masyarakat Indonesia masih masuk dalam kategori unbanked. Ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh populasi belum memiliki rekening bank, apalagi kartu kredit. Inilah celah yang sedang diisi oleh layanan BNPL seperti Indodana, Shopee PayLater, dan Gopay Later, yang mencoba menjangkau masyarakat luas dengan metode pembayaran yang lebih fleksibel.

Dengan memanfaatkan sistem BNPL, masyarakat unbanked memiliki peluang untuk terlibat dalam ekosistem keuangan digital tanpa harus melewati proses perbankan konvensional yang sering kali dirasa rumit.

Segmentasi Konsumen dan Peluang Marketing

Segmentasi pengguna layanan BNPL di Indonesia semakin terbentuk. Beberapa klaster pengguna muncul berdasarkan platform yang mereka gunakan, seperti marketplace Shopee dengan Shopee PayLater, dompet digital dengan Gopay Later, hingga penggunaan QRIS untuk transaksi offline. Meski terlihat terpisah, potensi irisan di antara klaster-klaster ini tetap terbuka, yang artinya strategi pemasaran bisa saling bersinggungan dan diperluas.

Data Indodana menunjukkan mayoritas pengguna mereka berada di rentang usia produktif 25–39 tahun, dengan dominasi laki-laki sebesar 60%. Menariknya, sekitar 70% dari pengguna mereka merupakan generasi Z dan milenial, yaitu kelompok usia yang paling aktif dalam mengadopsi teknologi dan layanan keuangan digital. Ini adalah kelompok yang sangat sensitif terhadap kemudahan, fleksibilitas, serta layanan yang cepat dan transparan.

Persaingan dan Strategi Menang di Pasar BNPL

Di tengah persaingan yang kian ketat, Indodana bersaing langsung dengan pemain besar seperti Home Credit dan Kredivo. Meskipun demikian, Indodana mengklaim memiliki keunggulan dari sisi pertumbuhan. Dengan ekspansi ke 50 kota di Indonesia, mereka kini memiliki lebih dari 25 juta downloader dan 2 juta pengguna aktif.

Salah satu strategi kunci Indodana adalah membangun kepercayaan konsumen. Menurut Mira dan Iwan Dewanto, layanan yang responsif, tanpa tipu-tipu, dan adanya promo yang menyebar luas ke berbagai merchant menjadi nilai jual utama (unique selling point/USP) mereka. Hal ini dibuktikan dengan volume transaksi yang mencapai Rp500 miliar per bulan dan sekitar 10.000 transaksi per hari.

Pembelajaran Marketing yang Bisa Diterapkan

Bagi para marketer, kasus pertumbuhan Indodana dalam industri BNPL menawarkan sejumlah pelajaran penting:

  1. Pahami Target Konsumen Secara Spesifik
    Alih-alih mengejar semua segmen, Indodana memilih fokus pada pengguna debit dan kelompok unbanked. Ini memperbesar peluang konversi karena pendekatan lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
  2. Bangun Kepercayaan Sebelum Promosi
    Di era digital, transparansi dan kecepatan layanan menjadi kunci loyalitas pelanggan. Marketing tidak cukup hanya menjual produk, tapi juga membangun persepsi positif terhadap brand.
  3. Jangkau Konsumen Lewat Ekosistem
    Menyebarkan promo ke berbagai merchant adalah strategi cerdas untuk menciptakan pengalaman omnichannel yang memperkuat keterikatan pelanggan.
  4. Gunakan Data untuk Membaca Peluang Baru
    Data demografi dan perilaku pengguna BNPL menunjukkan bahwa generasi muda menjadi ujung tombak adopsi teknologi. Ini bisa menjadi acuan untuk menyusun strategi komunikasi yang lebih emosional dan personal.
  5. Fokus pada Diferensiasi Layanan
    Di pasar yang mulai padat, diferensiasi melalui layanan konsumen menjadi kunci. Konsumen akan lebih mudah mengingat merek yang memberikan pengalaman terbaik, bukan sekadar harga atau diskon.

Kesimpulan

Pasar BNPL di Indonesia masih berada dalam fase pertumbuhan dengan potensi luar biasa. Dengan tingkat inklusi keuangan yang masih rendah dan adopsi digital yang terus meningkat, ruang untuk ekspansi layanan ini masih terbuka lebar. Kuncinya terletak pada bagaimana brand dapat memahami kebutuhan konsumen, membangun kepercayaan, dan hadir sebagai solusi yang benar-benar relevan dalam keseharian mereka.

Jika Anda ingin berkonsultasi atau membutuhkan layanan terkait strategi pemasaran digital, segmentasi pasar, atau pengembangan layanan keuangan berbasis teknologi, silakan hubungi kami melalui WhatsApp di 0818521172. Tim kami siap membantu Anda tumbuh bersama perubahan zaman.