Previous Next

Jul 06

PERBEDAAN-PERBEDAAN YANG LEBIH TAMPAK PADA BEBERAPA JENIS RITEL-RITEL MODERN YANG SEDANG BANYAK BERKEMBANG SAAT INI

Kebanyakan diantara para pengecer telah menyadari tentang betapa pentingnya menggabungkan antara yang terbaik dari teknologi digital dan juga dari toko fisik yang lebih menguntungkan dan yang terpenting lagi adalah untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang sangat istimewa namun dengan tetap konsisten di seluruh saluran-saluran distribusinya.

Pelanggan mereka yang paling berharga adalah yang terlibat langsung dengan mereka pada semua saluran, yaitu: toko, jaringan bisnis seluler, jaringan bisnis sosial, dan juga berupa toko online. Untuk saat ini, telah muncul begitu banyak format dari modern ritel/market, beberapa diantaranya yang paling banyak dikenal adalah:

1. Supermarket.
2. Minimarket.
3. Hypermarket.
4. Speciality store/convinience store.
5. Department Store.

Salah satu contoh dari beberapa jenis usaha ritel modern yang paling sederhana digambarkan dengan cara yang juga sederhana dimana pasar ritel modern tersebut adalah berupa tempat para pedagang untuk menjual dan memasarkan barang-barang yang berupa produk-produk makanan maupun produk non makanan yang bisa berupa makanan jadi, olahan atau dari beragam jenis kebutuhan harian lainnya yang biasanya telah hadir dengan format self service dan akan selalu menggunakan sistem dari swalayan atau pasar yang lebih besar, yaitu konsumen yang harus segera memberikan pembayaran dari kasir yang mereka sediakan.

Sementara orang-orang yang lebih sering menggunakan istilah dari “minimarket” dan “supermarket” secara bergantian untuk merujuk kepada toko-toko makanan ritel modern, pengamat industri telah menawarkan panduan yang jauh lebih spesifik lagi tentang berbagai jenis pemasok. “Hypermarket” yang saat ini masih berada di ujung spektrum yang jauh lebih besar dan cukup mampu dalam membawa beragam jenis makanan dan barang-barang dagangan yang lebih bersifat umum. Perbedaan yang jauh lebih mencolok dari ke tiga jenis usaha ritel modern tersebut adalah :

1. Tingkat Ukuran atau Skala.

Apa yang sebenarnya masih membedakan antara jenis toko kecil, minimarket, supermarket dan hipermarket sebagai sebuah entitas adalah berupa ukuran yang relatif dan jangkauannya. Toko kelontong modern atau biasa disebut dengan minimarket merupakan pesaing yang jauh lebih kecil, dengan tingkat pendapatan tahunan yang kurang dari pendapatan supermarket, sementara untuk supermarket sendiri mampu menghasilkan jauh lebih besar daripada minimarket. Sedangkan penghasilan dari hipermarket tentunya akan jauh lebih besar lagi daripada keduanya.

2. Jenis Produk yang Ditawarkan.

Meskipun dari jenis produk-produk makanan, namun tampaknya merupakan salah satu jenis produk kemasan yang telah menghubungkan antara minimarket, supermarket dan hipermarket, namun khusus untuk minimarket yang membawa barang dan hampir dikemas secara lebih eksklusif dan mudah rusak, sementara untuk supermarket menggabungkan antara penawaran tersebut dengan departemen tambahan seperti halnya tersedianya toko roti, delivery dan apotek seperti jenis non store retailing.

3. Jenis Dari Format Toko.

Toko grosir, supermarket dan para pesaing mereka yang jauh lebih besar lebih banyak menggunakan sejumlah format-format tradisional dan non tradisional yang berbeda antara satu sama lain.

4. Penggunaan Tren.

Data yang telah menunjukkan bahwa resensi sementara yang sudah mengurangi jumlah perjalanan yang selama ini telah dilakukan oleh orang-orang untuk pergi ke supermarket, orang-orang yang membeli lebih banyak per kunjungannya karena mereka tidak membutuhkan belanja yang cukup banyak. Yang mana dari hipermarket memang lebih diperhatikan, undang-undang yang membatasi dari sisi ekspansi mereka yang telah menyebabkan adanya restrukturisasi pada sektor ini, termasuk juga untuk perampingan dan pertumbuhan dari konsep klik-dan-pikap online, di mana para pelanggan dapat dengan mudahnya menempatkan memesan secara online untuk pickup nantinya. Semakin tingginya tingkat pertumbuhan pada jenis format minimarket yang telah ditandai dengan semakin lebih ketatnya tingkat persaingan dalam hal ekspansi atau berupa penambahan-penambahan dalam jumlah gerai dari kedua pemain besar yang dalamnya, yaitu dari Indomart dan Alfamart.

Nah, demikianlah penjelasan berupa informasi yang terkait dengan jenis dan contoh dari jenis usaha ritel modern yang diharapkan akan bisa semakin menambah wawasan bagi Anda sekalian seputar beberapa perbedaan-perbedaan yang cukup mencolok dari beberapa jenis ritel-ritel modern yang sedang banyak berkembang saat ini. Dari beberapa jenis ritel modern tersebut juga masih memiliki beberapa nilai positif maupun negatifnya masing-masing. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian, apabila pembaca membutuhkan artikel tersebut di atas dan membutuhkan pembimbingan untuk membangun ritel modern seperti supermarket bahan bangunan, grosir modern seperti Indogrosir, serta minimarket mulai dari awal, silahkan menghubungi groedu@gmail.com atau kontak ke 081-8521172 atau 081-252-982900. Kami siap membantu!

GD Star Rating
loading...

Jul 05

PERNAHKAH TERPIKIRKAN OLEH ANDA TENTANG BISNIS PERANTARA, BENARKAH BERBISNIS INI CUKUP MENGUNTUNGKAN?

Di Indonesia, sebutan untuk makelar, calo, tengkulak atau broker dari kalangan pasar saham nasional mungkin sudah sangat tidak asing lagi dan cukup banyak dikenal luas oleh masyarakat. Seperti misalnya calo tiket, makelar tanah, makelar rumah, tengkulak hasil perkebunan, broker surat-surat perizinan, broker saham dan lain sejenisnya.

Tingkatannya pun bermacam-macam, ada yang masih kelas paling bawah sampai dengan kelas yang paling profesional dan sudah sangat tersistem dengan cukup rapi yang langsung dikoordinir dibawah perusahaan. Keempat istilah tersebut memang hampir-hampir mirip dan sama persis dalam berbagai pekerjaannya, namun terkadang masih saja ter cap sebagai istilah yang negatif dikalangan kebanyakan masyarakat luas.

Karena yang banyak sekali diketahui masyarakat adalah, karena mereka hanya sekedar ingin mencari untung saja dalam setiap kesempitan (isu negatif dari para tengkulak). Namun jika ditelusuri dengan lebih mendalam lagi, maka seseorang yang pekerjaannya adalah sebagai makelar, calo, tengkulak atau sebagai broker adalah sebagai profesi pedagang perantara yang pekerjaannya adalah untuk menghubungkan antara pedagang satu dengan pedagang yang lainnya, penjual yang kesulitan untuk menjualkan barang-barangnya dengan para pembeli yang juga merasa kesulitan untuk menemukan barang-barang dengan kriteria-kriteria yang diinginkan oleh si pembeli. Dengan kata lain, mereka adalah termasuk kedalam kategori jenis pebisnis yang menjalankan bisnisnya sebagai perantara dari bisnis lainnya.

Seiring dengan semakin berkembangnya dunia teknologi dalam berbagai aspeknya, untuk saat ini juga diikuti dengan semakin berkembang pula pertumbuhan dari bisnis perantara yang telah banyak menggunakan dan mengadopsi sistem teknologi terbaru saat ini. Masyarakat menjadi tidak merasa dirugikan lagi, namun mereka merasa semakin terbantu dengan adanya sistem tersebut.

Perhatikanlah bagaimana cara kerja dari sistem perantara jual-beli online seperti: bukalapak, lazada, tokopedia, sophee, dan yang sejenisnya, untuk perantara sistem pencarian kerja online yang menjembatani diantara perusahaan-perusahaan pencari tenaga kerja dengan skill yang mereka butuhkan dengan para pencari kerja dengan berbagai variasi keahlian dan kriteria yang bisa saja seperti apa yang banyak dibutuhkan oleh perusahaan, seperti halnya jasa perantara pencarian kerja online: jobsd, jobstreet dan lain sebagainya yang sebenarnya menjadi penjembatan atau perantara diantara penjual (calon tenaga kerja) dan pembeli (perusahaan).

Hampir bisa dipastikan memang mirip-mirip tipis bukan, bentuk alur dari sistem kerja bisnis perantara seperti ini? Terdapat range (jarak) untuk sistem pembagian hasilnya atau imbal jasa untuk jenis bisnis perantara tersebut. Dari hasil keuntungan yang telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak, yaitu diantara pihak penjual dan perantara atau pihak perantara dengan pihak pembeli.

Benarkah untuk jenis bisnis perantara seperti ini memang sangat prospek dan cukup menguntungkan? Model bisnis seperti ini sebenarnya juga sudah mulai popular untuk saat ini dan juga cukup menguntungkan, karena untuk menjalankan bisnis seperti inipun juga tidak membutuhkan adanya modal yang terlalu besar, bahkan juga bisa tanpa modal sedikitpun.

Selain itu untuk permasalahan resiko meruginyapun sangat kecil, karena hanya sebagai perantara saja (bukan pemilik sebenarnya) dari barang yang jika tidak laku maka yang akan rugi adalah produsen atau penjual yang sebenarnya (bukan perantara).

Sebagai contoh dari perantara (makelar) properti yang akan mencarikan pembeli prospek untuk menjualkan rumah seharga 1M. Makelar tersebut akan mendapatkan komisi sebanyak 2,5% atau 25jt (komisi yang lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan negosiasi kesepakatan antara pihak perantara dengan si penjual). Bayangkan saja jika sekali deal dan rumah dapat benar-benar terjual, maka si perantara tersebut akan benar-benar mendapatkan uang sebesar 25 juta rupiah. Dan ini merupakan perantara yang sudah termasuk kelas professional dan sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya.

Seperti kelihatannya, memang sangat mudah dalam menjalankan berbisnis perantara seperti ini, hanya tinggal mencari penjual yang membutuhkan bantuannya untuk memcarikan calon-calon pembeli prospek bagi si penjual, lalu menawarkan kepada si pembeli yang cukup potensial. Jika benar-benar terjadi deal, maka Anda sudah bisa mendapatkan pemasukan sebagai pebisnis jasa perantara.

Namun untuk menjalankan bisnis perantara seperti ini baik itu sebagai makelar, broker atau yang sejenisnya, diperlukan kemampuan/skill khusus yang lebih mirip seperti seorang ahli marketer atau kemampuan dalam menjelaskan, mempengaruhi dan bernegosiasi. Beberapa hal yang harus benar-benar dimiliki adalah kemampuan dalam komunikasi yang baik, dan menguasai segala hal yang terkait dengan barang-barang/produk yang sedang ditawarkan, memiliki jaringan yang terkait dengan apa yang akan dijual, dan tentunya yang terpenting adalah dapat dipercaya dan bisa diandalkan.

Agar Anda benar-benar bisa sukses dalam memulai bisnis sebagai seorang pebisnis perantara, maka usahakanlah agar kedua kepentingan, baik kepentingan dari si penjual maupun dari si pembeli memang sama-sama harus dapat terpenuhi dan tidak ada salah satu atau dari keduanya belah pihak (pihak penjual dan pembeli) yang merasa telah dirugikan oleh Anda.

Nah, itulah sedikit penjelasan seputar berbisnis sebagai perantara sebagai kategori jenis bisnis yang menjalankan bisnisnya sebagai perantara dari bisnis yang lainnya. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian, apabila perusahaan pembaca sudah berkembang dan membutuhkan penanganan secara professional serta membutuhkan system manajemen, pembuatan SOP dan software accounting. Silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak 081-252-982900 atau 081-8521172. Kami siap membantu!

GD Star Rating
loading...

Jul 01

BEBERAPA BISNIS RITEL MODERN YANG SEDANG BERKEMBANG SAAT INI BERDASARKAN CIRI-CIRI TERTENTUNYA

Berbisnis ritel terutamanya adalah jenis ritel modern merupakan bentuk aktivitas bisnis yang lebih banyak melibatkan penjualan barang-barang secara langsung kepada para konsumen akhir. Pada perkembangannya, untuk saat ini bisnis ritel modern di Indonesia sudah mulai melakukan berbagai transformasi dari jenis bisnis ritel yang awalnya masih bersifat tradisional untuk menuju kepada jenis bisnis ritel modern. Perkembangan dari jenis bisnis ritel modern di Indonesia yang sudah semakin banyak pada hampir diseluruh wilayah di Indonesia. Dan hal itu memang sudah dapat terlihat dari semakin banyaknya toko-toko ritel modern yang telah membuka cabangnya pada berbagai wilayah di Indonesia.

Jenis perusahaan ritel modern secara umum dapat dikategorikan berdasarkan ciri-ciri tertentu berikut, yaitu:

1. Toko Diskon (Discount Stores).

Merupakan jenis toko ritel modern pengecer yang menjual berbagai macam jenis barang-barang kebutuhan dengan harga yang sedikit lebih murah dan mampu memberikan pelayanan minimum.

2. Toko Khusus (Speciality Stores).

Adalah sejenis toko eceran yang telah menjual barang–barang dari jenis lini produk tertentu saja yang lebih bersifat spesifik.

3. Departemen Stores.

Adalah sejenis toko eceran yang berskala lebih besar dengan cara pengelolaannya yang telah terpisah-pisah dan sudah terbagi menjadi bagian-bagian dari departemen–departemen yang telah menjual bermacam-macam jenis barang-barang yang juga berbeda–beda.

4. Toko Swalayan (Convenience Stores).

Berupa pengecer yang telah menjual jenis dari item-item produk yang lebih terbatas, dan bertempat yang lebih nyaman dengan jam buka yang jauh lebih panjang.

5. Toko Katalog (Catalog Stores).

Merupakan suatu jenis toko yang lebih banyak untuk memberikan berbagai informasi produk melalui media katalog yang telah dibagikan terhadap para konsumen yang lebih potensial untuk membelinya.

6. Toko Cabang (Chain Stores).

Merupakan pihak pengecer yang memiliki lebih dari satu gerai dan sudah dimiliki oleh perusahaan yang sama.

7. Supermarket.

Merupakan jenis toko eceran yang telah menjual berbagai macam jenis produk makanan dan juga sejumlah kecil dari produk non-makanan dengan sistem konsumen yang melayani dirinya sendiri dari (toko swalayan).

8. Hypermarkets

Merupakan sejenis toko eceran yang menjual berbagai jenis barang-barang kebutuhan dalam jumlah yang sangat besar atau bisa lebih dari 50.000 item dan sudah mencakup banyak sekali jenis produk. Hypermarket merupakan gabungan antara retailer toko diskon dengan jenis hypermarket.

9. Minimarket.

Merupakan sejenis toko kelontong modern yang menjual segala macam jenis barang dan makanan, namun juga tidak sebesar dan selengkap seperti halnya supermarket dan hypermarket. Namun untuk jenis minimarket juga sudah menerapkan sistem seperti swalayan.

Terdapat tiga hal pokok yang harus lebih diperhatikan dalam menjalankan jenis usaha toko ritel modern, yaitu:

1. Dalam berbisnis ritel modern, orang-orang yang ingin membuka toko ritel modern tidak bisa selalu melakukan segala pekerjaan tersebut sendirian, maka dari itu dibutuhkan adanya seorang manajer yang lebih handal dan cukup mampu dalam mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan ekspektasi dari pengusaha.

2. Harus ada konsep yang lebih jelas dan lebih terarah tentang jenis usaha ritelnya seperti apa dan dengan menggunakan sistem yang lebih bagus baik dalam hal manajemen maupun yang berasal dari rantai produksi agar bisa dipastikan sampai langsung ke tangan para konsumen. Selain itu perusahaan juga harus memiliki sistem penjualan yang lebih efektif dan cukup efisien, terutamanya adalah dalam hal mempromosikan agar pesan dari brand Anda dapat tersampaikan dengan lebih baik kepada para calon konsumen.

3. Yang terakhir adalah memperhatikan harga dari suatu produk ritel modern harus tetap dijaga agar tetap dapat menjadi lebih kompetitif, dan tidak sampai terpaut jauh dengan yang berada di pasaran. dan para pengusaha juga harus mampu untuk mengisi celah atau dengan cara-cara yang belum pernah terpikirkan untuk dimanfaatkan oleh para kompetitor atau para pesaing lainnya. Mereka harus mampu dalam melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan tersebut dengan lebih baik dan mendapatkan hasil yang juga baik pula.

Itulah sedikit penjelasan singkat seputar beberapa kategori dari jenis-jenis bisnis ritel modern yang sedang berkembang saat ini berdasarkan dari ciri-ciri tertentunya. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda sekalian, apabila anda membutuhkan informasi terkait artikel di atas dan membutuhkan bimbingan dalam mendirikan Ritel modern atau grosir modern, silahkan hubungi groedu@gmail.com atau kontak ke kami 081-8521172 atau 081-252982900. Kami siap membantu!

GD Star Rating
loading...