«

»

Jul 09

CARA MENGATASI TURN OVER TEKNISI YANG MENJADI MIMPI BURUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Sepintas Bagian Engineering atau Maintenance berisi orang-orang multi high skill (memiliki keterampilan tinggi). Untuk pernyataan seperti ini, sangatlah tidak mengherankan bahwa orang-orang dibagian ini sudah terbiasa bekerja secara one man show. Begitu pula dengan bagian engineering, orang-orang dengan keahlian khusus seperti ini terkadang justru merasa lebih nyaman jika bekerja secara sendiri-sendiri.
Namun sebenarnya juga tidak benar-benar pas jika dikatakan bahwa semua para engineer lebih nyaman jika bekerja sendiri. Tetapi ini adalah realitanya, saat lebih memerlukan teknisi lain untuk problem solving. Teknisi seperti ini malah lebih pada sebagai Helper atau teknisi pembantu, dengan pertimbangan safety saat bekerja dan operasionalnya.
Dari sisi mentalitasnya, ada dua macam type teknisi. Type Engineer dan Type Tukangnya Engineer / Helper.
1. Type Engineer
Tidak berarti harus insinyur sarjana teknik, akan tetapi sudah memiliki konsep kerja seorang engineer, diantaranya memiliki minat dalam rekayasa teknik, dan termotivasi untuk menjaga dan meningkatkan performance mesin. Teknisi yang masuk di type ini, melihat knowledge dan skill sebagai modal, ada minat yang sangat besar untuk memperdalam spesialisasinya dan berusaha menguasai bidang keilmuan lain yang dapat menunjang kinerja mereka meski di tingkat basic. Misalnya saja : seorang Teknisi mekanik, juga menguasai electric, instrumentasi, drawing design, manajemen perawatan, dan lain-lain. Jadi benar-benar tingkat dasar ilmunya menunjang untuk melakukan rekayasa teknik dan koordinasi lintas bidang keilmuan.
2. Type Tukangnya Engineer/Helper
Teknisi yang masuk di kategori ini adalah :
• Lebih mengutamakan pengalaman dibandingkan dengan kedalaman proses berpikir dalam menganalisa permasalahan.
• Melihat bidang keilmuan hanya dari sisi yang sangat sempit Mekanik ya mekanik, electric ya electric, dan seterusnya. Tidak ada minat untuk mempelajari bidang lain, sehingga memiliki banyak keterbatasan dalam melakukan rekayasa teknik. Meskipun bisa tidak lebih dari menjadi “Helper” engineer saja.
Yang dimaksud orang dengan keahlian khusus, yaitu Teknisi yang masuk Type satu. Perusahaan tidak akan pernah merasa segan atau ragu untuk memberikan penawaran yang tinggi untuk merekrut mereka, apalagi jika mereka berada di rentang usia yang masih terbilang cukup muda yaitu seusia antara 27 – 30 tahun. Maka disinilah letak permasalahnya, yaitu bisa dikatakan juga dengan “ Pembajakan tenaga kerja “. Faktor Ekonomi menjadi alasan utama, ahli-ahli mesin berkeahlian khusus ini berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya.
Lalu apa yang kemudian terjadi? Bagaimana nasib perusahaan yang telah ditinggal oleh teknisi tersebut? Mau tidak mau perusahaan harus tetap mencari teknisi ahli pengganti yang baru lagi dan harus memulai dari dari awal untuk proses adaptasi ulang. Dan Perusahaan yang dituju akan merasa was-was jika ditinggal pergi meski dengan resiko “new boss, new rule”, strategi lama akan terputus dan akan mulai dengan strategi baru.
Kenyataannya dunia Engineering menawarkan kesempatan untuk mengenal berbagai teknologi baru, berimprovisasi dan mengupgrade skill, dimana dari sudut pandang individu apa yang didapat (experience, kowledge, skill) akan berdampak langsung pada nilai jual. industri konvensional sangat tergantung pada individu, namun industri modern lebih tergantung kepada sistem. Sistem yaitu interaksi sinergis antara semua komponen terkait, ada didalamnya human resources, metode kerja.
Ini akan sudah jelas akan menjadi permasalahan yang sangat kompleks bagi kebanyakan perusahaan, namun pastinya tetap ada solusinya yaitu dengan cara berikut ini :
1. Dokumentasi
Sudah jelas, jika semua permasalahan permesinan di mapping setelah itu menetapkan standard perbaikan. Jika semua terdokumentasi, mulai dari Drawing Parts Mesin, Sistem operasional mesin, Problem, langkah Perbaikan, dan lain-lain terkait hal teknis lainnya, Budaya One Man Show berangsur-angsur akan menghilang dengan sendirinya, dan bergeser pada model kerja kolektive. Perlu untuk diingat, bahwa dokumentasi maintenance banyak menyangkut hal yang sangat rahasia (very confidential), anda wajib memiliki mekanisme untuk menjamin kerahasiaannya.
2. Penerapan Sistem Penilaian Performance Berbasis obyektivitas Kinerja
Dengan adanya sistem ini, Gap atau Selisih antara Skill standard dengan actual yang dimiliki akan terlihat secara obyektif. Kuncinya pada data, umumnya semua orang sudah merasa bekerja dengan baik dan benar, tetapi jika tidak berbicara data obyektif, maka akan banyak sekali miss komunikasi. Sistem TPM menyediakan formulasinya, tinggal diolah dengan MBO atau Performance Approval system lainnya. Setelah itu lakukan Trainning rutin untuk pembekalan Basic Skill, melatih urutan kerja, kemampuan analisa masalah, dan lain-lain.
Point kedua akan sangat bagus lagi apabila perusahaan mau berinvestasi software khusus manufacturing sehingga nilai proses pekerjaan Engineering dapat diketahui secara pasti di desktop komputer. Nah, untuk mendapatkan software manufacturing ini tentunya perlu diskusi dengan bijaksana dengan top manajemen karena butuh invetasi. Namun dengan adanya software dijamin turn over para Engineering dijamin ketitik terendah karena dengan adanya software tersebut kegiatan kolektif akan tercipta karena software akan mengintegrasikan setiap proses dengan proses lainnya.
Informasi mengenai software manufacturing dapat klik di www.softwareaccountingsurabaya.com atau email ke consultantsoftware9@gmail.com

Sumber atikel : dedylondong.blogspot.com

GD Star Rating
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>